Tuesday, February 9, 2010

4 Thumbs Up for Departures!!

Awalnya gw gak begitu excited buat nonton film Departures di Jiffest 2009. Selain karena gw gak begitu update soal film, gw juga kurang terlalu suka dengan film Jepang. Karena pacar gw ngebet banget buat nonton nih film, akhirnya gw pun nemenin dia buat nonton film itu di Blitzmegaplex. Tanpa persiapan apa-apa, semisal nelpon dulu pihak penyelenggara buat nanya apa masih ada tiket, gw dan pacar pun nekat menuju ke Blitz.
            Dan alangkah terkejutnya setelah sampai disana, ternyata tiket buat hari itu udah abis terjual! Udah gitu tiket buat esok harinya pun udah sold out! Gila gw bener-bener gak abis pikir sama nih film. Emang sebagus apa sih?
            Akhirnya pacar gw harus terima kenyataan kalo dia gak bisa nonton film itu. Gw ngerasa gak enak karena gw gak pernah liat dia sesedih itu. Gw pun bertekad dalem hati buat nyari tuh film kalo nanti udah edar dalam bentuk dvd.
            Sekitar kurang lebih 3 bulan berselang, akhirnya gw dapet kabar dari temen gw kalo film-film Jiffest 2009 udah pada keluar. Tanpa nunggu lebih lama, akhirnya gw langsung cabut ke tempat gw biasa beli dvd. Apalagi, temen gw bilang, film Departures itu udah ada dan udah dia beli. Singkatnya, gw udah beli itu film lalu ngasih itu ke pacar gw. Dan betapa senengnya dia begitu gw kasih film itu. Dia berkali-kali muji tuh film sampe bikin gw penasaran buat nonton.
            Akhirnya setelah pacar gw nonton, gw pun minjem dvd nya untuk memuaskan rasa penasaran gw. Dan…4 thumbs up buat Departures!!
        Film Jepang ini bercerita tentang seorang pemain cello yang kemudian banting stir menjadi seorang perias mayat. Daigo (Masahiro Motoki), pemain cello itu harus menerima kenyataan kalo ternyata orkestra tempat dimana ia bekerja harus dibubarkan. Karena merasa tidak punya penghasilan tambahan, ia bersama istrinya pun pindah dari Tokyo ke kampung halaman tempat dulu ia tinggal. Disana ia mendapatkan pekerjaan dari sebuah iklan lowongan pekerjaan di koran.
            Pada awalnya ia menyangka lowongan kerja bertajuk Departures itu adalah sebuah agen travel. Namun ternyata setelah menghubungi perusahaan yang bersangkutan, ia mendapatkan kenyataan bahwa itu adalah perusahaan jasa untuk merias mayat.
            Awalnya ia ragu menerima pekerjaan itu karena sebelumnya ia tidak pernah mengurus mayat. Selain itu, pekerjaan itu pun merupakan pekerjaan yang dipandang sebelah mata. Tapi karena terdesak ekonomi dan gaji yang lumayan besar langsung dibayar di muka, maka ia pun mencoba pekerjaan itu.
            Maka ia mulai menyembunyikan pekerjaannya dari isteri dan temannya. Tapi belakangan, pekerjaannya itu ketahuan oleh isteri dan temannya. Karena malu, isterinya pun pergi meninggalkannya, temannya tak ingin kenal lagi.
            Hingga suatu saat isterinya memutuskan untuk kembali mendampinginya. Namun sejumlah masalah justru datang bertubi-tubi.
            Ibunda sang teman yang membencinya, meninggal dan membutuhkan juru rias untuk mayat.
Selain itu, kematian ayahnya pun datang begitu tiba-tiba, setelah sekian lama ayahnya pergi meninggalkan dirinya saat ia berusia 6 tahun. Sedangkan sebelum ayahnya pergi, ia tidak pernah tahu bagaimana wajah ayahnya itu.
Bagaimana ia menghadapi semuanya? Apakah isterinya dapat mengerti pekerjaannya yang dipandang sebelah mata itu? Selain itu, apakah dia akan sudi datang ke pemakaman ayah yang dibencinya?
Film ini tergolong unik karena kisah yang diangkat jarang sekali orang yang tahu. Belum lagi unsur kebudayaan Jepang cukup kental dalam film ini. Konflik yang tercipta dalam Departures pun terjalin dengan halus, pelan, dan memukau. Tidak perlu kita bersusah payah mengerti apa yang disuguhkan film ini. Dan menurut gw, akting Masahiro Motoki bener-bener pantes diganjar dengan penghargaan Best Actor.
Selain itu, gambar tentang pemandangan Jepang dengan alamnya yang masih virgin pun tersajikan dengan sangat apik, apalagi musik klasik Beethoven mengiringi film ini. Tak berlebihan jika film ini mendapatkan penghargaan Best Pictures, Best Director, dan Best Screenplay. Bagi lu yang suka banget sama film drama, gak berlebihan kalo gw bilang film ini menjadi salah satu daftar wajib tonton!

Monday, February 8, 2010

Skins Season 2, not as good as 1st Season

       Setelah nonton season 1 nya, akhirnya rasa penasaran gw terbayar juga setelah nonton season 2 dari serial Skins. Di season kedua ini masih dengan tema yang sama, yaitu tentang konflik antara para remaja yang bersahabat.
       Di season 2 ini juga jalinan konflik yang terjadi jauh berani dan lebih rumit. Belum lagi tokoh-tokoh yang sebelumnya bermain dalam season 1 penokohannya belum terlalu dalam, tapi di season 2 ini karakternya berkembang di luar dugaan.
       Setelah mengalami kecelakaan dalam akhir cerita di season 1, Tony (Nicholas Hoult) mengalami amnesia dan kehilangan kemampuan motoriknya. Sehingga membutuhkan perhatian dan pelatihan khusus untuk mengembalikan semuanya. Sementara Michelle, sangat berharap Tony kembali padanya. Sayangnya Tony belum mampu mengembalikan semua ingatannya. Belum mampu menjalani kehidupan seperti biasa, Tony masih dibantu oleh adiknya, Effy. Dan selama Tony perlu bantuan, Effy selalu membantunya. Effy yang pada season 1 belum terlalu di ekspos, pada season 2 ini cukup memainkan banyak peran.
      Di season ini juga, Cassie akhirnya bisa kembali pada Sid. Sementara Jalanda akhirnya menemukan cintanya yang ternyata sahabatnya sendiri. Maxie yang pada season 1 belum mendapat pacar, di season 2 ini mendapatkan kekasih. Dan Anwar, yang sebelumnya masih malu-malu berhubungan dengan wanita, kali ini terlihat seperti kuda lepas dari kandangnya.
    Secara keseluruhan, pengembangan karakter tokoh sangat mengejutkan. Konflik lebih berani, tapi terkadang kurang greget. Namun penambahan karakter baru membuat serial ini tidak kehabisan napas karena selalu berkutat dengan karakter lama.
          Namun yang disayangkan adalah, kita harus kehilangan karakter yang cukup berpengaruh di season ini. Selain itu ending pada bagian pamungkas agak sedikit mengecewakan, tipikal-tipikal film Indonesia menurut gw. Seharusnya terasa lebih keluar dari pakem, apalagi di season ini merupakan perpisahan tokoh-tokohnya yang akan digantikan dengan tokoh-tokoh baru di season 3 nanti. Apakah di season 3 ini Skins akan sebagus season 1 nya? Atau malah lebih buruk dari season 2 nya?