Ga
kerasa gw udah 7 bulan jadi juragan cendol, banyak lika liku. Yang pasti gw
mempelajari 2 hal, jadi bos ga segampang yang dipikirkan dan cari karyawan itu
susah. Selama 7 bulan ini gw udah 2 kali ganti karyawan, yang pertama cuma
bertahan sehari, karena gw ga cocok.
Cowok, orangnya jorok, ngerokok pas
lagi jaga, 1 kesalahan fatal dalam menjual makanan. Yang kedua hanya bertahan 3
bulan, itu pun ga sampe. Yang kedua ini complicated banget, sampe sekarang pun
dari kabar yang gw denger, dia nyesel banget keluar dari gw. Tapi ya gimana
lagi, gw paling ga suka kalo karyawan udah bawa-bawa urusan pribadi ke kerjaan.
Karyawan gw ini dilarang sama pacarnya buat kerja. Pacarnya ngajak buru-buru
nikah, sedangkan mereka pun statusnya masih sama-sama karyawan yang masih butuh
duit buat bertahan hidup.
Akhirnya gw pun ga tahan banget.
Apalagi pacarnya udah kurang ajar ke gw. Mungkin mereka ga salah juga, sebab gw
pun memperlakukan mereka layaknya teman bukan sebagai bos kepada bawahan.
Selama 7 bulan ini outlet gw
bertambah 1 lagi, sehingga jadi 2. Yang kedua terletak di ITC Cempaka Mas.
Harga sewa yang mahal, lantas ga membuat gw menaikkan harga cendolnya. Menurut
orang-orang sana harga cendol gw kemahalan dengan bandrol 7 ribu.
3 bulan pertama di Cempaka Mas,
omzet sehari-hari walaupun belum capai target untuk menutupi biaya sewa, masih
memberikan harapan kalo cendol akan sukses menutupi biaya sewa. Tapi tiba-tiba
bencana itu datang, memasukin bulan puasa omzet gw turun drastis sampe 50%, gw
pun ga ngerti kenapa bisa gitu.
Sebenernya kantor pusat pun bilang
hal itu biasa terjadi awal-awal bulan puasa, biasanya hanya seminggu aja,
setelah itu normal kembali bahkan membludak. Dan saran itu memang benar dan
terjadi di cabang gw yang utama, Kelapa Gading. Tapi di Cempaka Mas, malah
makin memburuk. Belum lagi ditambah kios yang biasanya tidak menjual cendol,
mereka ikut-ikutan menjual, dengan harga yang lebih murah, 5 ribu. Gw pun udah
ga kuat, akhirnya kabar baik datang.
Gw ditawari untuk ikut pameran di
mall yang baru buka. Kota Kasablanka. Excited banget. Tapi sekali lagi, harapan
tinggal harapan, penjualan disitu lebih parah daripada di Cempaka Mas. Pernah
sehari gw cuma jual 1 cup aja, itu pun yang beli pengelola. Dan kondisi ini
mungkin karena mallnya yang benar-benar baru buka, sehingga masih banyak
puing-puing yang belum dibersihkan. Masih banyak kuli bangunan yang
berkeliaran. Mata pun perih saat masuk mall karena bangunannya baru saja di
cat. Akhirnya dalam waktu 2 minggu gw pun langsung tarik dagangan dan pindah ke
Grand Indonesia. Berhubung EO yang mengurusnya masih orang yang sama, mungkin
karena rasa bersalah, gw pun ditawari untuk ke mall yang ada di dekat Bunderan
HI.
Penjualan disana fantastis, dua kali
lipat dari penjualan di Cempaka Mas. Gw pun yakin dengan penjualan di GI bisa
menutupi biaya operasional di Cempaka Mas yang selama ini masih ditolong dari
Kelapa Gading. Dan akhirnya sampai di penghujung bulan puasa, penjualan sangat
bagus bahkan melebihi omzet Kelapa Gading. Untuk sementara, karena libur
lebaran, operasional di Cempaka Mas dihentikan.
Setelah libur lebaran operasional di
Cempaka Mas kembali diteruskan, kali ini dengan semangat dan harapan yang sama,
ditambah lagi karena karyawan yang di Cempaka Mas sudah lebih dari 3 bulan
mengabdi, maka berhak mendapatkan kenaikan uang makan sebesar 50%.
Tapi sekali lagi harapan tinggal
harapan, penjualan di Cempaka Mas malah lebih buruk dari sebelum puasa. Lebih
buruk dari awal-awal saat gw buka dulu. Dan gw pun ga ngerti kenapa, sampai
saat sekarang gw menulis blog ini penjualan masih belum ada tanda-tanda yang
menyenangkan. Keadaan ini pun bukan dialami oleh outlet Cempaka saja, tapi di
Kelapa Gading pun sama, meskipun tidak separah Cempaka.
Hampir 1 bulan berlalu setelah
lebaran, masih belum ada tanda-tanda Cempaka bangkit. Dan kemudian kabar itu
pun datang beruntun. Yang pertama, gw dapet tempat di MOI, dengan jam
operasional yang dengan mendengarnya pun terbayang lelahnya. Belum lagi harga
sewanya yang berat. Yang kedua, karyawan gw yang di Cempaka, akan menikah lagi
setelah beberapa tahun menjanda. Dan dia pun keluar secara baik-baik, karena
calon suami tidak mengijinkannya untuk bekerja.
Well, mungkin itu semua tanda. Bahwa
inilah akhir dari outlet Cempaka Mas. Inilah akhir dari Sari juga. Jujur,
walaupun gw jarang kontrol langsung, hanya beberapa kali saja terutama saat
ambil omzet atau antar/ambil stok, pekerjaan Sari rapi. Dewasa, mandiri,
bertanggung jawab, profesional serta berdedikasi, itulah gw lihat selama ini.
Dan malam ini, saat gw berikan Sari
gaji terakhir. Gw malah yang masih berharap bisa bekerja sama lagi. Menjalin
kembali hubungan profesional antara bos dan karyawan. Walaupun di saat-saat
terakhir Sari akhirnya melakukan sedikit kesalahan, jumlah omzet yang dia
setorkan kurang 4 ribu. Gw kira gw salah hitung karena waktu itu gw buru-buru.
Tapi ternyata sebuah sms datang.
“Ass mas gimana uangnya? Pas kan?
Mas makasih banyak ya” Sudah pasti uang yang itung kurang. Gw sebagai bos yang
punya kewajiban menegur/ meluruskan/ memperbaiki kesalahan karyawan akhirnya
menjawab begini,
“Wass
Sari uangnya kurang 4 ribu. Tp gpp mungkin krn km buru-buru mau beres-beres
jadi salah hitung. Kl km butuh kerjaan lagi, sms saya aja. Mudah2an kalo saya
lg ada lowongan km bisa masuk”
“iya mas ku minta maaf ya mas, iya
mas nanti sari sms kl sari boleh kerja lagi.”
Aku pun segera menyudahi sms dengan
jawaban pamungkas, “iya gpp sari. Selamat menempuh hidup baru ya Sari, semoga
jadi keluarga yang sakinah, mawaddah, n warohmah. Salam juga buat anak dan
calon suami km”
“iya mas, makasih doanya” Sari
menjawab singkat.
Selamat tinggal Sari, semoga di lain
kesempatan kita bisa bekerja sama lagi...
No comments:
Post a Comment